Juli 21, 2024
Home » Kesenian Topeng Malangan yang Harus dijaga Kelestariannya!

Malang Raya merupakan gabungan dari tiga wilayah, yaitu Kota Malang, Kabupaten Batu, dan Kabupaten Malang, yang mana kota Malang adalah sebagai pusatnya.
Selain menjadi salah satu pusat kota pelajar di Provinsi Jawa Timur, Kawasan Malang raya dikenal juga sebagai salah satu tujuan wisata utama di Indonesia. Bentang alam berupa dataran tinggi, menyebabkan sebagian besar wilayah Malang Raya berhawa sejuk. Karena keindahan alamnya, Malang mendapat julukam Parijs van Oost-Java dan julukan lainnya adalah Kota Bunga.
Di wilayah berhawa sejuk ini, hamparan pohon apel tumbuh subur. Tak heran Malang dikenal sebagai penghasil apel, terutama di daerah Batu.
Sebagai kota dengan destinasi atau tujuan wisata yang beraneka ragam, Malang Raya tidak hanya menawarkan keindahan alamnya saja. Malang juga memiliki banyak karya seni dan budaya harus tetap terawat dan dilestarikan. Salah satu kesenian Malang ini adalah seni topeng.

Penjelasan Mengenai Seni Topeng

Menurut sejarah, salah satu pusat persebaran seni topeng di tanah Jawa adalah di Malang, Jawa Timur. Indonesia memiliki banyak daerah penghasil seni topeng, sehingga penyebutan nama berdasarkan pada daerah penghasil seni topeng itu sebagai identitas hasil budaya tradisional setempat. Topeng yang dibuat dan berkembang di Malang, dikenal dengan sebutan Topeng Malangan.
Kesenian topeng ini sudah dikenal dan dimiliki oleh sebagian besar masyarakat di pelosok Nusantara dalam kurun waktu yang telah lama. Topeng juga bukan hanya sekedar benda seni saja, tetapi topeng dibuat pada mulanya sebagai penggambaran simbolis untuk menghormati roh nenek moyang.
Dalam salah satu catatan sejarah, topeng telah dikenal sejak zaman kerajaan Kanjuruhan, raja Gajayana. Dikatakan pada masa itu topeng pertama terbuat dari emas dan dikenal dengan istilah Puspo Sariro, yang berarti bunga dari hati yang paling dalam. Topeng pada masa itu merupakan tradisi kultural dan religiusitas yang memiliki makna ganda.
Sejarah munculnya topeng sudah ada wacana ketika Kabupaten Malang dipimpin oleh bupati Malang yang bernama Raden Sjarip bergelar Adipati Suryo Adiningrat pada tahun 1890an. Daerah-daerah tempat lahirnya topeng Malang yang masih dikenal di wilayah Kabupaten Malang diantaranya desa atau dusun Tumpang, Tulus Besar, Glagahdowo, dan Kedungmonggo. Sayangnya eksistensi topeng Malang di beberapa daerah tersebut sudah mulai surut.

Ciri Kesenian Topeng Malangan

Topeng Malangan memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri khas terletak pada pemaknaan bentuk hidung, mata, bibir, warna topeng dan ukirannya. Untuk warna, topeng malang memiliki 5 warna dasar, yaitu merah, putih, hijau, kuning dan hitam. Dimana masing masing warna berfungsi sebagai simbol dari karakter topeng atau tokoh yang diperankannya. Putih mewakili sifat jujur, suci dan berbudi luhur. Kuning menggambarkan kemuliaan. Hijau menggambarkan watak kedamaian. Merah menggambarkan angkara murka, licik atau bisa juga keberanian. Hitam menggambarkan kebijaksanaan. Ukiran atau ragam hias pada topeng Malang, biasanya berupa urna di bagian kening. Melati, kantil, teratai jamang, pada bagian dahi dan irah-irahan atau tutup kepala yang mewakili sifat kebangsawanan.
Pada topeng Malang, tokoh topeng Klana, biasanya diidentifikasikan dengan mata bulat, hidung empok, gigi bagian atas tampak, dan berwarna merah. Karakternya adigang-adigung, agresif, keras, lugas dan tegas.
Tokoh topeng Panji, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung kebawah, gigi bagian atas tampak dan berwarna hijau. Karakternya suka bertapa,sakti, bijak dan baik budi.
Tokoh topeng Punakawan, diidentifikasikan dengan topeng tidak menutupi seluruh wajah, hanya separuh wajah dan berwarna putih. Karakternya lucu, cuek, dan bijaksana.
Tokoh topeng Putri, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung ke bawah, gigi tidak tampak dan berwarna putih. Karakternya, lembut ,rendah hati dan feminim.
Tokoh topeng Gunungsari, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung kebawah, bibir tipis dan berwarna putih. Karakternya rendah hati, lembut dan agak feminim.
Tokoh topeng Sekartaji, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung, bibir tipis dan berwarna putih. Karakternya, lembut, rendah hati dan feminin.
Tokoh topeng Ragil Kuning, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung, gigi tidak tampak dan berwarna kuning. Karakternya lembut ,tegas dan pemberani.
Tokoh topeng Bapang, diidentifikasikan dengan mata besar, hidung besar ,gigi tampak atas dan berwarna merah. Karakternya sombong dan licik.
Jika dahulu topeng terbuat dari batu bahkan emas dan logam lain, saat ini bahan dasar dalam pembuatan topeng adalah kayu. Kayu yang dipilih berasal dari pohon dengan spesifikasi khusus. Adapun peralatan yang dipergunakan untuk membuat topeng malang adalah gergaji, patuk lajeng, tatah, pengot, cat, kuas dan amplas. Gergaji digunakan untuk memotong kayu menjadi gelondongan. Patuk-lajeng digunakan untuk membuat bakalan/pola. Tatah digunakan untuk mengukir dan melubangi (lekuk-lekuk topeng), misalnya untuk membentuk mata, hidung maupun ukiran lain. Pengot digunakan untuk membentuk semuanya, yaitu membentuk karakter dan mengukir. Amplas digunakan untuk menghaluskan topeng agar ketika dicat mendapatkan hasil yang bagus. Cat dan kuas digunakan untuk proses finishing, yaitu memberi pewarnaan pada topeng sesuai dengan karakter tokoh topeng.

Dalam proses penciptaan topeng Malangan, pembuatnya tidak menciptakan sendiri wajah atau bentuk topeng, melainkan meniru atau mencontoh bentuk topeng yang sudah ada. Para pengukir topeng Malangan pada umumnya adalah seniman yang memiliki kepiawaian tidak hanya sebagai pengukir topeng saja melainkan juga penari topeng, bahkan ada juga sebagai dalang. Kemampuan membuat topeng Malangan biasanya didapatkan secara turun-temurun.

Cara Pembuatan Topeng Malangan

Tahap pertama dalam pembuatan topeng adalah memilih jenis kayu yang cukup tua agar saat diukir atau diraut tidak rusak karena memiliki struktur kayu yang lebih kuat. Kayu dipotong-potong gelondongan memanjang kurang lebih 20 sentimeter sesuai dengan ukuran topeng pada umumnya. Tahapan ini biasa disebut membuat bakalan. Bakalan kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di bawah pohon atau di bawah atap. Masing masing potongan kayu kemudian dibuat pola atau digambar sebelum diukir serta dilubangi sesuai bentuknya. Pertama adalah membuat hidung, kelopak mata, baru kemudian mulut, disesuaikan dengan karakternya. Kemudian kayu digosok menggunakan amplas. Masuk pada tahap finishing, topeng yang sudah halus dicat atau diwarnai. Dalam pewarnaan topeng, dahulu menggunakan pewarna alami tradisional. Untuk warna putih menggunakan bubuk batu kapur/gamping atau injet. Warna merah menggunakan bunga sumbo keling atau pupus daun jati. Warna hijau dan biru berasal dari daun koro, sedangkan warna kuning dibuat dari kunyit. Warna hitam dari arang yang ditumbuk dan dicampur dengan minyak kelapa. Bahan pewarna tradisional tersebut memiliki kelebihan karena tidak mudah kotor kena debu atau keringat, dan mampu menampilkan ekspresi yang kuat.

Perkembangan Topeng Malangan Pada Masa Sekarang

Pada perkembangannya, ada beberapa perubahan pada topeng Malangan salah satunya dari segi fungsi. Dahulu topeng memiliki makna religius namun saat ini topeng Malangan banyak difungsikan sebagai bagian dari seni dan budaya. Topeng Malangan menjadi kompenen yang wajib ada dalam tari topeng maupun lakon wayang topeng Malang. Wayang topeng Malang biasanya mengangkat lakon panji. Saat ini topeng diproduksi bukan hanya untuk kebutuhan seni pertunjukkan saja tetapi juga untuk dipasarkan sebagai sovenir khas Malang dengan berbagai ukuran.

Topeng Malangan dalam dunia Pendidikan

Dalam praktik pendidikan seni dan budaya pada masa sekarang, topeng malangan ini menjadi salah satu pilihan alternatif pendidikan kesenian berupa penciptaan mahakarya yang dibentuk oleh siswa / siswi ataupun mahasiswa yang mempelajari seni rupa khususnya siswa atau mahasiswa Malang. Tak menutup kemungkinan pula pengajaran topeng Malangan ini di lakukan di luar wilayah Malang.
Topeng malangan ini sering diajarkan oleh pendidik kepada siswa nya mulai dari cara membuat dan fungsinya. Jadi, upaya perkenalan kesenian topeng malangan ini terus dilakukan dan semoga tetap dilakukan untuk melestarikan seni dan kebudayaan yang asli dari Malang.

Tinggalkan Balasan