Bagikan ke Teman

Ketika kita membahas terkait mengapa nilai Rupiah turun, salah satu faktornya adalah inflasi. Namun, tidak banyak masyarakat yang mengerti terkait apa itu inflasi. Agar tidak terlalu rumit, mari kita bahas istilah ini dengan bahasa sederhana pada postingan ini.

Apa Itu Inflasi?

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, sehingga daya beli uang menjadi melemah. Dengan kata lain, jumlah uang yang sama bisa membeli lebih sedikit barang dibanding sebelumnya.  

Ingin contoh bagaimana inflasi ini bekerja? Cobalah lihat bayangan sederhana yang terjadi dari tahun ke tahun berikut ini. Bayangkan kamu suka membeli nasi goreng di warung langganan:  

  • Tahun 2020: Harga sepiring nasi goreng Rp10.000.  
  • Tahun 2023: Harga naik menjadi Rp15.000.  
  • Sekarang, tahun 2025 : Harga naik lagi menjadi Rp20.000.  

Di sini, uang Rp10.000 yang dulu cukup untuk membeli sepiring nasi goreng, kini hanya cukup untuk setengah porsi atau bahkan tidak cukup sama sekali. Itulah dampak inflasi: nilai uang berkurang karena harga barang naik.  

Mengapa Kenaikan Ini Bisa Terjadi?  

Inflasi bisa terjadi karena berbagai faktor, misalnya:  

  • Permintaan tinggi (Demand-pull inflation) : Jika banyak orang ingin membeli suatu barang, tapi stok terbatas, harga akan naik.  Contoh: Saat lebaran, harga daging dan ayam naik karena banyak yang membelinya.  
  • Biaya produksi naik (Cost-push inflation) : Ketika harga bahan baku atau ongkos produksi naik, produsen akan menaikkan harga jual.  
  • Peredaran uang berlebihan :   Jika terlalu banyak uang beredar di masyarakat tetapi jumlah barang tidak bertambah, harga barang akan naik. Contoh: Saat semua orang mendapatkan bantuan uang tunai dalam jumlah besar, mereka akan belanja lebih banyak, dan penjual menaikkan harga karena permintaan meningkat.  

Apakah Setiap Negara Mengalaminya?

Hampir setiap negara akan mengalami inflasi sepanjang waktu, tetapi tingkat inflasinya bisa berbeda-beda. Inflasi adalah bagian alami dari perekonomian, terutama karena harga barang dan jasa cenderung naik seiring waktu. Namun, ada beberapa kondisi khusus, seperti:  

  • Inflasi yang Stabil (Normal) :  Inflasi yang terkendali biasanya berkisar 2-3% per tahun, yang dianggap sehat untuk pertumbuhan ekonomi. Contoh: Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang sering mengalami inflasi rendah dan stabil.  
  • Inflasi Tinggi (Hyperinflation) : Jika inflasi terlalu tinggi dan tidak terkendali, daya beli masyarakat bisa anjlok. Contoh: Venezuela pernah mengalami inflasi lebih dari 1.000.000% per tahun, membuat uang kehilangan nilai drastis.  
  • Deflasi (Kebalikan Inflasi) : Beberapa negara bisa mengalami deflasi, yaitu turunnya harga barang dan jasa secara terus-menerus. Deflasi terlihat baik karena harga turun, tetapi bisa berbahaya karena orang menunda belanja, ekonomi melambat, dan perusahaan merugi. Contoh: Jepang pernah mengalami deflasi dalam waktu lama, membuat pertumbuhan ekonominya stagnan.  
  • Negara dengan Inflasi Nol atau Hampir Nol : Sangat jarang ada negara dengan inflasi nol dalam jangka panjang, karena faktor seperti kenaikan biaya produksi, gaji pekerja, dan kebijakan ekonomi selalu berpengaruh.  

Bisakah Kita Hilangkan?

Sayangnya fenomena kenaikan ini tidak.bisa kita hilangkan sama sekali. Beberapa faktor yang menyebabkan adanya inflasi secara berkala adalah:

  • Harga Barang dan Jasa Alami Naik Seiring Waktu : Biaya produksi (seperti bahan baku dan upah pekerja) cenderung naik, sehingga harga barang ikut meningkat. 
  • Pertumbuhan Ekonomi Membutuhkan Inflasi : Inflasi yang terkendali mendorong pertumbuhan ekonomi, karena perusahaan dan pekerja mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga dan upah. Jika inflasi nol atau deflasi (harga barang turun terus-menerus), orang bisa menunda belanja, sehingga ekonomi melambat.  
  • Pengaruh Faktor Global :  Harga minyak dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar, dan kebijakan ekonomi negara lain bisa berdampak pada inflasi di Indonesia.  

Meskipun inflasi tidak bisa dihilangkan, pemerintah dan Bank Indonesia bisa mengendalikan inflasi agar tetap dalam batas aman (sekitar 2-4% per tahun). Sampai disini sudah faham tentang apa itu inflasi bukan?

Posted by Nessa
PREVIOUS POST
You May Also Like

Leave Your Comment: