Mei 22, 2024
Home » Pembuangan Limbah Nuklir Jepang, Berbahayakah?

Pada hari Kamis (24/8/23) ada banyak berita kehebohan di media sosial akibat pembuangan limbah nuklir di lautan. Pelaku yang dengan sengaja membuang limbah berbahaya ini ke laut adalah negara Jepang. Ternyata, hal ini terpicu oleh masalah tsunami yang terjadi di kawasan Fukushima, Jepang. Bencana alam pada tahun 2011 ini membuat kawasan PLTN di Fukushima mengalami kebocoran.

Hal tersebut juga yang membuat daerah tersebut seperti kawasan kota mati atau kota hantu. Karena saat bocor pemerintah menyuruh warga sekitar mengungsi ke kawasan lain yang jauh dari Fukushima. Setelah kebocoran terjadi, mereka menggunakan air laut untuk meredam efek radiasi nuklir di daerah tersebut. Namun, nyatanya setelah belasan tahun berlalu tangki yang mereka gunakan untuk menampung limbah kebocoran nuklir ini mulai penuh dan tidak bisa menampung lagi. Inilah mengapa wacana membuang limbah nuklir ke laut mereka lakukan. 

Berbahayakah Pembuangan Limbah Nuklir Ini?

Sebenarnya jika kita mencari tau apakah ada bahaya atau tidak dari pembuangan limbah tersebut. Maka, sebenarnya semua limbah yang kita hasilkan di permukaan bumi ini tetap berbahaya. Dan bisa saja mencemari lingkungan tempat tinggal. Apalagi tentang limbah nuklir. Walaupun kabarnya memang sudah tersaring dengan baik dan konsentrasi bahan berbahaya masih dibawah angka yang sudah WHO tetapkan. Jika memang faktanya demikian, mengapa banyak yang protes serta resah? Nah, mari simak fakta tentang limbah nuklir yang Jepang buang ke lautan lepas semenjak tanggal 24 Agustus 2023 ini. 

Yang banyak orang takutkan adalah senyawa tritium pada limbah tersebut. Senyawa ini merupakan salah satu kontaminan limbah nuklir terbesar, dan memang akan berbahaya bagi tubuh manusia. Bisa masuk dengan mudah di tubuh kita, terikat dengan berbagai senyawa penting di dalam tubuh. Ujung-ujungnya bisa mengubah komponen genetik dan tentu saja bisa memicu berbagai penyakit berbahaya seperti kanker. 

Namun, setelah tersaring kabarnya kadar Tritium pada limbah tersebut hanya sebanyak 1.500 becquerel. Dan kadar ini jauh di angka kadar berbahaya yang 10.000 Bq/L (batas WHO). Namun apakah tetap aman untuk peradaban manusia? Tentu saja kadar yang masih tergolong sedikit ini tetap membuat banyak orang resah.

Limbah nuklir memiliki bahaya serius bagi manusia karena mengandung bahan radioaktif yang dapat merusak jaringan tubuh dan menyebabkan penyakit seperti kanker, gangguan organ, dan masalah genetik. Paparan radiasi jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan, serta membutuhkan waktu ribuan tahun untuk menjadi aman. Limbah nuklir juga dapat mencemari air dan tanah, mengancam sumber daya alam dan kehidupan ekosistem. Pemrosesan, penyimpanan, dan pembuangan limbah nuklir merupakan tantangan teknis dan etika yang harus diatasi dengan hati-hati.

Bagaimana Dengan Ekosistem Laut?

Limbah yang dibuang ke laut dapat merusak ekosistem laut dengan beberapa cara. Bahan kimia beracun dan zat-zat berbahaya dalam limbah dapat mencemari air laut, merusak kualitas air, dan membahayakan kehidupan laut seperti ikan, hewan laut, dan organisme lainnya. Selain itu, limbah plastik yang tidak terurai juga menjadi ancaman serius. Plastik dapat mengotori perairan, terurai menjadi partikel-partikel kecil yang disebut mikroplastik, dan berdampak negatif pada organisme laut yang menelan atau terperangkap olehnya.

Limbah yang mengandung nutrien seperti fosfor dan nitrogen juga dapat menyebabkan ledakan populasi alga, yang mengakibatkan hipoksia atau area mati di laut. Proses ini mengurangi kandungan oksigen di dalam air dan membahayakan kehidupan laut yang membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup. 

Bahkan jauh sebelum Jepang melakukan ini, negara kita juga kerap membuang limbah ke laut. Pembuangan limbah ke laut memiliki beberapa bahaya serius, termasuk:

  • Pencemaran Air Laut:Limbah kimia, bahan beracun, dan polutan lain yang dibuang ke laut dapat mencemari kualitas air. Ini mengancam kehidupan laut dan keseimbangan ekosistem, serta dapat menyebabkan keracunan pada organisme laut dan manusia yang mengkonsumsinya.
  • Mikroplastik: Limbah plastik yang tidak terurai, seperti botol plastik dan tas plastik, hancur menjadi mikroplastik oleh aksi gelombang laut dan sinar matahari. Mikroplastik ini menjadi bagian dari rantai makanan laut dan dapat masuk ke tubuh organisme laut dan manusia yang mengkonsumsinya.
  • Gangguan Ekosistem: Limbah yang merusak kualitas air dan menyebabkan hipoksia (area mati dengan kadar oksigen rendah) dapat mengganggu ekosistem laut, mengancam kehidupan laut, dan mengganggu rantai makanan.
  • Kerusakan Terumbu Karang: Bahan kimia dan limbah beracun dapat merusak terumbu karang yang rentan. Terumbu karang adalah habitat penting bagi banyak spesies laut dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
  • Dampak Terhadap Kesehatan Manusia: Pencemaran air laut dapat mengkontaminasi sumber air minum dan menyebabkan penyakit pada manusia yang berenang atau berinteraksi dengan laut yang tercemar.

Jadi tidak hanya Jepang, seluruh negara di dunia seharusnya berusaha menjaga ekosistem lautan agar tidak rusak.

Tinggalkan Balasan